[ 2025-09-08 ]
Deep Learning Hadirkan Pembelajaran Bermakna dan Menyenangkan
Kota Pekalongan - Dunia pendidikan di Kota Pekalongan bersiap menghadapi perubahan penting dengan hadirnya pendekatan deep learning dalam proses belajar-mengajar. Dinas Pendidikan Kota Pekalongan menekankan bahwa deep learning bukanlah kurikulum baru, melainkan filosofi pembelajaran yang menuntun arah strategi dan implementasi di ruang kelas.
“Deep learning itu bukan kurikulum, tetapi pendekatan. Filosofi pembelajarannya akan diterjemahkan ke dalam bentuk strategi, lalu diturunkan lagi ke implementasi nyata di kelas. Jadi kurikulum masih sama, hanya ada penyederhanaan muatan,” ujar Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Mabruri saat ditemui belum lama ini.
Menurutnya, perubahan ini bukan pada struktur kurikulum, melainkan pada cara pembelajaran diberikan kepada siswa. Beban materi yang terlalu banyak akan dikurangi, agar siswa bisa belajar lebih mendalam dan penuh makna.
“Prinsipnya bukan soal seberapa banyak materi, melainkan bagaimana materi itu dipahami secara mendalam, dengan rasa gembira, serta memberi makna bagi anak-anak. Belajar tidak cukup hanya tahu, tapi siswa harus bisa memahami manfaat dan konteks dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Pendekatan ini diyakini akan mendorong peserta didik untuk mengaitkan ilmu pengetahuan dengan realitas yang mereka alami, sehingga pembelajaran tidak berhenti di teori, tetapi betul-betul hidup dalam keseharian.
Ia menjelaskan bahwa penerapan deep learning secara regulasi baru akan mulai berjalan pada tahun ajaran 2025–2026. Meski demikian, pelaksanaannya dilakukan bertahap karena kesiapan guru menjadi faktor kunci keberhasilan.
Guru-guru akan melewati pelatihan dalam beberapa tahap, yakni in, on, dan in, dengan rentang waktu sekitar satu hingga dua bulan. Skema ini memungkinkan pendidik memahami filosofi deep learning terlebih dahulu sebelum menerapkannya di kelas.
“Kita tidak bisa langsung melaksanakan secara frontal. Guru perlu melalui pelatihan bertahap. Maka, implementasi akan berjalan secara perlahan namun terarah,” tambahnya.
Lebih lanjut, dirinya berharap pendekatan ini mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki daya pikir kritis, mampu melihat manfaat dari ilmu yang dipelajari, serta mengaitkannya dengan kehidupan nyata.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)