[ 2025-07-29 ]
Spiritualitas Ditingkatkan, Warga Binaan Wanita Rutan Pekalongan Siap Jadi Pribadi Lebih Baik
Kota Pekalongan – Upaya pembinaan kepribadian dan spiritual terus digalakkan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Pekalongan. Salah satu bentuk nyatanya adalah penyelenggaraan kegiatan bimbingan mental (bintal) keagamaan yang menyasar warga binaan wanita. Kegiatan ini berlangsung penuh khidmat di area Blok Wanita Rutan Pekalongan pada Selasa (29/7/2025), dan menghadirkan Ibu Muanifah, perwakilan dari Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pekalongan, sebagai narasumber utama.
Kegiatan yang menjadi bagian dari program pembinaan rutin tersebut disambut antusias oleh para warga binaan. Mereka mengikuti setiap sesi dengan serius, menunjukkan semangat tinggi untuk memperbaiki diri melalui pendekatan keagamaan. Bintal kali ini berfokus pada penguatan pemahaman agama Islam secara menyeluruh, mulai dari dasar hingga praktik ibadah yang benar.
Beberapa materi utama yang diajarkan meliputi Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) untuk mengasah kemampuan membaca huruf hijaiyah dan menulis ayat-ayat suci Al-Qur’an, sebagai langkah awal mendekatkan diri kepada kitab suci. Selain itu, diberikan juga pendalaman Asmaul Husna untuk mengenal dan menghayati 99 nama baik Allah SWT sebagai upaya menumbuhkan kecintaan dan rasa takwa kepada Sang Pencipta.
Tidak hanya itu, ada materi Muqodimah Keimanan, dimana mengulas tentang bacaan istighfar, dua kalimat syahadat, dan doa-doa dasar sehari-hari sebagai fondasi spiritual yang kuat, penguatan Tauhid untuk menanamkan nilai-nilai ketauhidan sebagai pondasi utama dalam memperbaiki akhlak dan perilaku, serta ilmu Tajwid sebagai pembelajaran tentang kaidah membaca Al-Qur’an secara tartil dan benar, agar setiap lantunan ayat menjadi lebih bermakna.
Kepala Rutan Pekalongan, Nanang Adi, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, bimbingan keagamaan adalah bagian penting dari proses rehabilitasi warga binaan.
“Bimbingan spiritual ini sangat esensial dalam membentuk karakter warga binaan. Melalui pendekatan agama, mereka bisa belajar introspeksi, memperbaiki diri, dan menyiapkan langkah-langkah positif untuk masa depan. Kami berharap, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin dan konsisten,” ungkap Nanang.
Ia menambahkan bahwa, pembinaan keagamaan menjadi salah satu pilar utama dalam program reintegrasi sosial. Harapannya, warga binaan yang telah mendapatkan sentuhan rohani mampu menjadi pribadi yang lebih baik, religius, dan diterima kembali oleh lingkungan sosialnya.
Sementara itu, Ibu Muanifah dalam penyampaian materinya turut memberikan motivasi dan dorongan semangat kepada warga binaan agar menjadikan masa pembinaan ini sebagai momentum perubahan diri.
“Jangan pernah merasa terlambat untuk belajar dan berubah. Allah SWT Maha Pengampun dan senantiasa membuka pintu taubat bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. InsyaAllah, bekal ilmu agama ini akan menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup kalian ke depan,” ujarnya.
Kegiatan bimbingan keagamaan ini pun mendapat sambutan positif dari para warga binaan wanita. Salah satu peserta menyampaikan rasa syukur karena bisa mendapatkan ilmu agama yang selama ini jarang ia pelajari secara mendalam.
"Saya sangat bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini. Banyak hal baru yang saya pelajari, terutama cara membaca Al-Qur’an yang benar. Semoga saya bisa terus belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik,” tutup salah satu warga binaan dengan mata berkaca-kaca.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)