Rilis Berita


Peringati HAN, Pemkot Pekalongan Tegaskan Komitmen Penanganan Kesehatan Anak dan Ibu

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2025-07-24 ]

Peringati HAN, Pemkot Pekalongan Tegaskan Komitmen Penanganan Kesehatan Anak dan Ibu

Kota Pekalongan — Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar kegiatan peringatan Hari Anak Nasional (HAN)!tahun 2025 dengan fokus utama pada pemantauan kesehatan anak secara menyeluruh di seluruh puskesmas se-Kota Pekalongan. Kegiatan ini juga sebagai bentuk komitmen dalam menekan angka kematian ibu dan anak serta mempercepat penanganan kasus stunting di Kota Pekalongan.

Hadir memantau kegiatan tersebut, Wali Kota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid didampingi Ketua TP PKK Kota Pekalongan, Inggit Soraya, di puskesmas Medono, Rabu (23/7/2025) menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi bagian integral dari mandat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk melaksanakan kunjungan rutin ke seluruh puskesmas guna memantau langsung kondisi anak-anak di wilayah masing-masing.

“Pemantauan kesehatan anak melalui puskesmas bukan hanya kegiatan rutin, tetapi bentuk sinergi yang kita harapkan mampu menekan angka kematian ibu melahirkan, bayi baru lahir, dan kasus stunting yang masih terjadi meskipun sudah menunjukkan penurunan di Kota Pekalongan,” katanya.

Wali Kota Aaf membeberkan bahwa seluruh layanan pemeriksaan ibu hamil di puskesmas disediakan secara gratis oleh pemerintah. Pemeriksaan tersebut dilakukan sebanyak 6 kali dalam masa kehamilan 9 bulan untuk memastikan kecukupan asupan gizi ibu serta perkembangan janin dalam kandungan.

“Semua layanan sudah kami fasilitasi. Pemeriksaan ibu hamil gratis, enam kali dalam sembilan bulan. Ini bagian dari upaya preventif kita agar ibu dan bayi terpantau kesehatannya sejak dini,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Aaf secara langsung menyaksikan beberapa kasus anak yang mengalami gangguan kesehatan. Beberapa di antaranya mengalami gizi kurang, dan ada yang anak menerima asupan susu melalui selang (sonde). Ia menegaskan pentingnya perhatian khusus dan penanganan intensif terhadap kasus-kasus tersebut.

“Kita lihat sendiri ada anak yang berat badannya kurang, bahkan tidak bisa minum susu secara langsung. Ini tidak bisa dianggap sepele. Harus ada pendampingan terus-menerus, dan ini menjadi perhatian serius kita ke depan,” tandasnya.

Lebih lanjut, ia memberikan pesan kepada orang tua untuk tidak malu atau segan melaporkan kondisi kekurangan gizi anak mereka. Menurutnya, jika hal tersebut ditutupi dan tidak dilaporin justru dapat menjadi hambatan dalam upaya pemulihan dan pencegahan lebih lanjut.

“Kalau tidak dilaporkan, pemerintah tidak bisa memberikan bantuan. Kita terus lakukan edukasi agar masyarakat paham bahwa ini bukan aib, melainkan persoalan yang harus diatasi bersama,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengapresiasi perubahan sikap masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, sejak tahun 2020-an, telah terjadi peningkatan kesadaran orang tua untuk lebih terbuka terhadap layanan kesehatan yang tersedia.

“Alhamdulillah sekarang masyarakat semakin terbuka. Sosialisasi yang terus-menerus membuahkan hasil. Penanganan jadi lebih cepat dan akurat karena datanya tersedia. Kalau kondisi ditutup-tutupi, kita bisa salah mengambil kebijakan karena merasa sudah selesai padahal masih ada titik rawan yang terlewat,” tambahnya.

Dengan berbagai program strategis, termasuk layanan kesehatan gratis, pemantauan gizi, edukasi orang tua, dan kunjungan berkala oleh tenaga medis, pihaknya berharap dapat mencetak generasi sehat dan produktif yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Peringatan Hari Anak Nasional di Kota Pekalongan tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat langkah-langkah konkret menuju generasi yang sehat, melalui pendekatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

(Tim Liputan Dinkominfo/dea)